Ini adalah gambar yang di ambil di puncak tertinggi jawa barat, gunung Gede pangrango, saat itu perjalanan dimulai, petualangan di alam bebas, berangkat dengan persiapan matang mengendarai mobil TNI model Losbak sepertinya , dengan perbekalan dan perlengkaapan yang dimiliki organisasi kami .
berangkat menuju lokasi siang setelah solat jumat, dilebih dahulukan dengan upacara Apel pelepasan siswa calon anggota baru Damarpala, dipimpin langsung oleh Pembina dan didampingi oleh Pelatih juga disaksikan Wakil Kepala Sekolah.
Setelah beberapa jam melalui perjalanan yang panjang kami semua tiba dilokasi larut malam, kira" pukul 21.00 , saat itu kami sudah tertidur pulas didalam mobil karena lelah yang teramat sangat melewati macet di jalan-jalan kota, kami langsung bergegas turun dari mobil TNI tersebut dan merapikan barang-barang kami, saat itu kami tiba di pos Gunung Putri, Para panita langsung bersiap" dan bergegas ke atas pos untuk melaporkan akan kegiatan kami ini ,setiba dipos saya bersiap" bersama ke 6 teman saya, sedikit berbincang, apa yang akan kita hadapi di depan sana, bagaimana rasanya ada didalam hutan dan apa yang akan terjadi nantinya...tapi obrolan kami terputus karena pelatih kami sudah menginstruksikan untuk segera bersiap naik ke atas,
dan 1 , 2 , 3 perjalanan dimulai . ..
kami melewati rumah penduduk , semakin naik dan semakin jauh, dengan dipimpin oleh kakak pendamping yang berjalan cukup cepat dan gesit bagai tak ingat kalau mereka membawa kami, anak didik yang baru pertamakali merasakan dinginnya udara malam ditengah hutan, perasaaan yang mencekam tapi menyenangkan karena bisa sedikit lupa dengan pelajaran dan masalah yang ada diruma juga diluar.. semakin jauh kami melangkah ternyata kami terpisah menjadi 2 rombongan dan sialnya, rombongan kami ( calon anggota ) dan kakak pendamping kamilah yang tersesat salah mengambil jalur dan akhirnya kami memutuskan untuk berhenti sementara itu kakak pendamping itu terus menghubungi rekannya yang lain dengan menggunakan HT, alat komunikasi yang bisa di gunakan di hutan dalam jarak yang tertentu, setelah beberapa menit kemudian kakak pendamping kami sebut saja ka Taufiq, memutuskan untuk berbalik arah, yang tadinya aku berada paling depan beruban menjadi paling belakang, aku terima berjalan dan terus berjalan mengikuti jejak langkah yang ada didepanku, sambil memandangi pemandangan Kota Bintang, ribuan cahaya lampu terpampang luas di dataran rendah sana jelas terlihat dari tempat yang saat itu aku injak, tak lama kemudian salah satu teman seperjuanganku terjatuh ( Pepi ), untungnya jatuhnya tidak terlalu parah, hanya terperosok ke Got dan tidak begitu dalamnya. setelah memastikan keadaannya baik" saja akhirnya kak taufiq melanjutkan perjalanan. tibalah kami di pos pertama kami sampai, dan bertemu dengan rombongan yang terpisah , selang beberapa saat aku terus memandangi dalam hutan yang semakin membuat aku penasaran, ada apa didalamnya, tak lama kemudian kami disuruh mengeluarkan Senter untuk penerangan diri kami sendiri sewaktu berjalan dihutan agar tidak jatuh lagi seperti kejadian tadi, setelah lama perjalanan sampailah kami di Pos I tampak seperti bekas rumah terbuat dari kayu yang sudah tidak berbentuk rumah seutuhnya, kami beristirahat dan para kakak pendamping mendirikan tenda yang seharusnya kamilah yang mendirikannya, tetapi karena sudah larut malam dan melihat kami sudah sangat kelelahan akhirnya mereka membantu untuk mendirikan tenda dan menyiapkan makan malam, saat itu yang menyajikan makan malam adalah kak Tyo, dan dibantu kak Sigit selebihnya berkumpul untuk membagi tugas satu sama lain. setelah mengahbiskan makan malam , akhirnya kami tertidur karena kami harus menyiapkan tenaga untuk pendakian panjang yang tak akan terlupakan .
karena hawa dingin dan suara berisik kakak pendamping yang sedang ngobrol saya pun terbangun ternyata bukan cuma saya , Sitoh, Eka , pepi juga belum tidur, ditambah Adi dan Bambang yang saat itu tidur disebelah kami, akhirnya kita bangun dan berbincang, kali ini pokok bahasannya bertemakan Horor, Adi yang cerita bersama Bambang, namun cerita horor mereka bukan lah yang kalian bayangkan , atau menyeramkan, melainkan cerita horor komedi, lantas saja kami dibuatnya tertawa terbahak" namun dengan volume yang sedang karena kalau ketahuan kami belum tidur , pelatih dan pembina kami pasti akan menghukum kami keesokan harinya, dengan istilah ( 1 seri sebanyak 15 kali push up dan seterusnya dikalikan 2 ), setelah lama kami bercerita dan melewati malam kira' pukul 04 subuh, saya mendengar ada org berseru " nasi uduk , nasi uduk kang, teh , nasi uduk " , saya langsung bingung, saya kira itu adalah ulah kakak pendamping kami yang iseng ternyata benar di atas gunung seperti ini ada yang berjualan nasi uduk , tapi pada waktu itu saya tidak membelinya, hanya melihat sekilas yang sepertinya kakak pendamping kami ada sebagian yang membeli.
Setelah itu kami dibangunkan untuk bersiap" mengikuti senam pagi yang dipimpin oleh kakak senior kami angkatan sebelum kami, kami bangun dan bersiap" saat itu tidak sempat mencuci muka dan menggosok gigi karena keterbatasan air yang kami punya, setelah kami senam pagi, kami dibubarkan diberikan waktu istirahat kemudian menyantap sarapan pagi karena setelah itu kami akan mendaki langsung ke puncak , tidak ada Camp lagi,
baru kali itu aku merasakan masakan yang super aneh, tidak seperti masakan mamah dirumah, nasinya yang matangnya tidak merata, tempenya yang penuh pasir karena bekas terjatuh ke tanah sewaktu kakak senior kami ingin membawakan lauknya ke tenda kami, akhirnya karena lapar , kami langsung menyantap seperlunya tanpa menghiraukan bekas pasir yang menempel pada tempe tersebut .
setelah semua sudah menyantap makanan dan sudah bersiap" akhirnya saya diperintahkan untuk mengkordinir teman saya untuk segera membersihkan dan merapihkan tenda juga barang" yang ada, sambil membersihkan sampah dan memasukkanya kedalam kantong plastik hitam besar yang tentunya sampah itu harus tetap dibawa sampai tiba di pos terakhir .
saat itu saya yang mendapat giliran membawa sampah, lumayan sangat merisihkan karena disamping tas sayalah yang paling besar saya harus membawa sampah yang lumayan besarpula. namun saya jalani dengan ikhlas karena itu adalah tanggung jawab daya, selain karena saya sedang dalam masa pendidikan yang mengharuskan saya menuruti dan mematuhu aturan main yang ada.
setelah lama berlangsung akhirnya giliran saya membawa sampah tersebut digantikan oleh rekan saya, desi, akhirnya saya bisa bernafas sedikit lega, akhirnya rasa lelah itupun mulai terasa karena kami sangat sering berhenti dan saat itu dikarenakan juga kami baru sekali itu mendaki gunung, tiba" kami diposisikan mendaki gunung yang lumayan tinggi mesipun terbilang gunung yang ramah dengan sejuta keindahan didalamnya, namun tetap menyimpan misteri pula.
saat lama perjalanan akhirnya masing' kami terpisah menjadi beberapa rombongan, saat itu ada teman dari kami yang bernama Sitoh, karena dia tidak membawa tas yang besar juga sampah , dia jalan paling cepat, entah kenapa disana dia sangat egois , tidak mau menunggu kami, teman seperjuangannya, disana saya jadi tahu siapa yang benar" teman dan siapa yang bukan, untungnya saaat itu saya ditemani oleh kakak pendamping sebut saja Kak Tyo, Oman, Tajir, Windu mereka menyemangati kami sambil sedikit membantu , membawa sampah dan sesekali menjulurkan tangannya kepada salah satu diantara kami yang kelelahan sambil berkata, " ayo, bentar lagi sampe Puncak, tuh liat ke atas deh" dengan nada yang menyemangati namun tetap bercanda agar kami tidak terlalu lelah, dan akhirnya kami tiba di Surya kencana, padang yang luas dengan ratusan bahkan ribuan bunga Abadi Eidelwest , kami beristirahat sejenak mendirikan Ponco dan membuat makanan, setelah menyantap pelatih kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan dan mendirikan tenda disalah satu tanah lapang tersebut, namun ternyata dalam perjalanan , ternyata kami mendapati hujan yang sangat lebat , lebih tepatnya badai sepertinya, jarak pandang kedepan sangat terbatas, saat itu yang saya ingat, saya hanya jalan sendiri namun didepan saya ada kakak pendamping dan rekan saya, saya paling belakang, cukup lama kami mencari tenda milik rombongan kami yang sudah lebih dulu berjalan yang disana ada 1 rekan kami ( sitoh ) sekitar 1 jam lebih kakak pendamping kami , rasa kesal , lelah, marah namun senang karena akhirnya bisa terlepas dari badai tersebut pun hilang karena disaat seperti itu saya rasa bukanlah hal yang tepat untuk marah dsbg.
setibanya ditenda kami langsung masuk dan mengganti pakaian kami yang basah sambil meminum air jahe yang diberikan oleh kakak pendamping, sudah masuk waktu sore saya mendengar kabar kalau masih ada rombongan kami yang di belakang di tempat kami beristirahat tadi, mereka sekitar 10 orang, tidak punya perbekalan yang banyak, tidak ada tenda karena semua tenda ada di tempat kami saat itu, akhirnya panitia pun memutuskan untuk mencai mereka, namun kabut mulai turun dan akhirnya panitia memutuskan untuk menghentikan pencarian dan kembali ke tenda, entahlah, apa yang terjadi disana saat itu, pasti sangat tersiksa tidak adanya tenda, dan alat masak juga bahan masakan, sudahlah akhirnya kamipun masuk ke tenda dan berkumpul menyusun rencana tidur yang nyaman, karena tenda yang kami pakai sangat kecil untuk kapasitas 6 orang akhirnya kami tidur bertumpuk, lagi" saya yang mendapat bagian tidak menyenangkan, posisi tidur yang sangat tidak nyaman, jelas saja toh badan saya yang mereka jadikan bantal .
disela tidur kami, desi membangunkan saya ,karena dia ingin buang air, saya yang masih ngantukpun menghiraukannya, dan akhirnya dia membangukan teman saya yang lain dan meminta ijink kepada pembina kami, bagaimana bisa buang air? disana hutan, tidak ada kamar mandi, dan terpaksa Desi buang
air di belakang tenda kami, .. saya yang pada saat itu sedang tertidur pulas tiba"terbangun karena bau yang menyengat yang ternyata adalah bau kentut, langsung saja saya balas dan malam itu kami sahut"an buang angin, sunggu perjalanan yang tak akan terlupakan,
pagi di surya kencana, udaranya yang sangat dingin sampai menusuk ke tulang saat itu, saya yang baru saja terbangun karena dibangunkan oleh Bambang yang sudah menyiapkan sarapan dengan kakak pendamping yang lain dan ada kak windu yang menghampiri tenda kami dengan membawa jahe hangat dan roti tawar untuk sarapan kami, setelah itu keadaan mulai meramah, kami bercerita, bercanda tawa di tenda ditemani dengan sebotol jahe hangat yang lumayan bisa menghangatkan meskipun hanya sesaat, tak berapa lama kemudian rombongan yang terakhir sampai ke tenda kami, mereka langsung menyerbu pelatih kami, sangat seru, menceritakan betapa menyedihkanya mereka disana, ada yang sampai buang air kecil di tempat dan sama seperti kita, sahut"an buang angin, sungguh pengalaman yang sangat mengesankan dalam hatiku berkata kapan semua ini akan berakhir, pengen banget rasanya pulang kerumah, dan ternyata fikiran saya pun sama dengan mereka , teman seperjuangan saya, dan yang lebih parahnya lagi adalah Sitoh , dia berucap " gua mau pulang ,nyesel ikut, ga mau mati disini gua" , ucapannya itu sedikit membuat saya down, karena memang perjalanannya sangat panjang, rasanya ingin sekali pulang ke rumah, tapi seketika saya berfikir untuk apa saya pulang, perjalanan saya sudah sejauh ini, dan saya yakin pasti bisa melewati semua ini jika saya semangat, semangat itulah yang diberikan teman saya adi dan bambang akhirnya kami kemali semangat dan bersegera mempersiapkan diri sambil menunggu yang lain merapikan tenda dan alat: lainnya.
setelah semuanya beres, kami kembali melanjutkan perjalanan, pelatih kami bilang sedikit lagi puncak gede akan kita raih.. semakin semangat saja saya , langkah kaki yang sudah mulai lemah kembali kuat ketika saya mendengar ucapannya itu, sudah tidak sabar melihat kota dari atas gunung.. melihat awan , itu saja yang ada di fikiran saya, sampai ketika pohon" sudah mulai sedikit dan jalanan sudah mulai menanjak terjal, dan . .
tibalah saya di Puncak Gunung Gede Pangrango , luar biasa pemandangannya , rasa lelah letih lesu semuanya terbayar dengan apa yang saya lihat , tumpukan awan, kota"dibawah kaki gunung ini, semuanya sangat indah, tak lupa saya mengabadikan moment tersebut, dikarenakan saya tidak mempunyai camera digital, akhirnya saya menumpang di camera Mp4 Adi, kami sangat senang, sampai lupa rasa sakit yang sewaktu doperjalanan tadi kami rasakan,
akhirnya setelah beberapa menit kami di atas, kamipun turun dari situlah saya kembali bersemangat, tapi rasanya sangat sedih karena harus berpisah dengan tempat yang sangat indah tersebut yang dimana kita bisa melihat seisi kota jawabarat dari atas dan melihat awan" dengan jelas , tujuan kami saat ini adalah cibodas,
ternyata tidak semudah yang saya bayangkan, kali ini perjalanannya yaitu mengelilingi gunung dan turun gunung, dan saat itu kami melewati Turunan Setan apabila kita naik dari Putri dan dinamakan Tanjakan Setan apabila kita naik melalui Gede atau Cibodas, lumayan sangat sulit, harus benar"hati" dan tentunya kakak pendamping kami membantu untuk hal itu, mereka mengarahkan saya dan teman" untuk turun dengan hati", sesudah turun dari sana kami terus berjalan sampai akhirnya sore mulai tiba, disinilah keganjalan mulai saya rasakan, kenapa rasanya lelah sekali dan semangat itu benar"hilang, saya dan yang lain mulai sering terjatuh ketika berjalan karena kabut yang mulai turun dan menghasilkan embun pada saat itu, namun saya tetap berjalan meskipun perlahan, terdengar suara kakak senior kami yang meneriakan dan mengejek juga memarahi kami ketika kami berhenti untuk beristirahat sejenak, mereka juga pasti merasakan hal yang sama, tapi mereka masih punya semangat dan rasa gengsi untuk terlihat lelah, itu lah sebabnya mereka terus jalan meski terasa sangat melelahkan..
akhirnya malampun tiba dengan semangat yang masih terisisa saya ikuti jalur yang ada dengan memegang senter dan sampah yang masih kami bawa untuk ditaruh di Pos, ditengah" perjalanan pelatih dan pembina saya berheni, terlihat mereka gelisah, entah apa yang terjadi sayapun tidak mengerti , yang ada di fikiran saya hanya rumah dan tempat tidur yang nyaman, dan saya yakin itu pula lah yang teman" saya bayangkan, ternyata setelah lama perjalanan sampailah kami di pos berikutnya dan dalam waktu bersamaan saya mendengar kabar kalau ada salah satu kakak pendamping kami yang jatuh sakit dan masih berada di belakang, saya juga sempat kaget, kenapa bisa seorang pendamping yang menurut saya pengalamanya sudah banyak ternyata bisa drop ditengah jalan, ada 2 pendamping yang 1. kak taufiq dan yang ke 2. kak opik, saya mulai mengkhawatirkan keadan saya sendiri apakah saya masih mampu bertahan melawan semua ini, rasa lelah dan semangat yang sudah hampir tidak ada, tapi kembali lagi, bambang dan adi memberikan saya semangat, saat di tempat peristirahatan,kami diberikan minuman hangat dan seduhan mie instan untuk mengganjal perut, dan tak lama kemudian Rangger dari Cibodas datang ke tenda kami dan memberikan pertolongan , mereka mengendong salah satu diantara kami dan membawakan tas saya sampai di pos terakhir .
setiba di pos terakhir saya dan rombongan yang lain menginap semalam disebuah ruangan , sepertinya ruang Lab, bukan hanya rombongan kami, tapi masih banyak dari kelompok lain yang bermalam disana, saya terdiam saat itu karena ruangan itu gelap, saya hanya membayangkan kamar saya yang sangat nyaman dan bersih juga memakai selimut, dan tak lama kemudian saya tertidur ..
.jpg)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar