Saat ini, aku sangat senang karena sebentar lagi, saya akan kembali ke kegiatan yang sudah sangat lama saya rindukan, yaitu mendaki...
Tujuanku kali ini adalah Pangrango, bersama dia yang ku sayang dan teman-temanku juga temannya..
kebetulan, minggu ini ada tanggal merah di hari jum'at pada tanggal 18 april nanti, kami berangkat pada kamis malam jumat, agar waktu tidak terlalu mepet dan kami bisa menikmati keindahan alam dengan nikmat...
ada dua pilihan, Pangrango atau Papandayan, keduanya sama-sama belum pernah ku kunjungi, jika saya berangkat ke Pangrango, saya akan ditemani oleh Dia yang ku sayang, namun jika saya ke papandayan sayaakan ditemani oleh ke 3 sahabatku dan kakak senior sewaktu kami sekolah dan berada di organisasi Damarpala..
Tapi aku bingung, karena disisi lain, aku masih belum yakin dengan kemampuanku ini, memang sudah lumayan lama pinggang tidak terasa sakit lagi.. tapi aku takut jika nanti ditengah hutan sana, aku menyusahkan mereka semua, tapi apapun itu aku harus kuat, karena saat inilah saat yang aku nantikan...
tunggu ceritaku lagi nanti ya..
Nahh, dilanjut yaa, orangnya sudah pulang dari Papandayan soalnye..
Jakarta, Kamis 17 April 2014
Kami berencana kumpul malam hari setelah semua aktivitas pagi sampai sore hari kami tuntaskan, kami ada 2 rombongan total ada 15 orang.
Sorepun tiba, akhirnya kami ( Ka mahrus, Ka faisal, Eka, Melin, Ipeh ) bersiap-siap untuk kumpul ditempat yang sudah kami rencanakan, yaitu di DM, dan ( suci juga hairul ) temannya ka faisal, mereka menunggu kami di terminal guntur garut, sedangkan mereka ( Ivan, Mas garut, Jambrong, Minyak, Ibenk, Fakhri, Aria ) menunggu di Kost Mas Garut alias Jarwo, namun karena kebiasaan rakyat indonesia ya bagini, ngaret padahal janjian jam 19.00 tapi alhasil kumpul dan Start ke Mambo jam 20.30 kemaleman deh.
Saatnya brangkat, dimulai dari Halte Enggano pada pukul 21.15 lanjut transit ke halte Uki dan berakhir dirambutan, bukannya gak cinta sama jakarta, memang enak naik busway, tapi kalo sepi, nah kalo rame kaya gini ya alhasil begitu, gak dapet tempat duduk sempit-sempitan bahkan sempet misah sama rombongan, Ivan, Mahrus sama Aria gak kebawa pada saat itu, tapi gak lama kemudian kami tiba di Kp. Rambutan, mereka sudah ada dibelakang kami, istirahat sebentar lanjut cari Bis arah ke Garut, tepat pukul 24.10.
Begini gak enaknya naik omprengan kalo tengah malem, udah susah, harga pada mahal, alhasilpun naik Bis berdiri gak ada yang duduk karena kursi sudah penuh, capek berdiri duduk dibawah sambil tidur bareng-bareng, kasihan liat doi, kayaknya khawatir banget dari berangkat sampe sekarang merhatiin, nanya tas yang dibawa berat atau gak, sampe-sampe tadinya bawa carriel, eh pas ketemu rombongan, tasnya diganti sama punya ka Fakhri yang agak enteng..
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba ditengah perjalanan, Bis yang kami tumpangi banyak keluar asap, mungkin karena bisnya sudah tua alhasil kepanasan mesinnya, kami semua panik karena banyaknya asap yang keluar, akhirnya bis berhenti dan kami diinstruksikan untuk turun, terlantar dijalan tol, entah Tol dimana, saya tidak tahu, karena sepanjang perjalanan gelap menemani kami.
Sampai beberapa jam, akhirnya Bis kembali dijalankan dan kami masuk kembali, ada sebagian yang memilih turun dan mencari bis lain, tapi kami tetap pada pendirian kami memilih Bis tua ini, disana juga kami banyak bertemu rombongan yang hendak mendaki, banyak tujuan mereka, dan rata-rata menuju ke Papandayan, kalau yang distasiun itu banyak yang ingin ke Gede.
Setelah beberapa jam bis berjalan, entah musibah apa lagi, ternyata bis kembali mengalami keganjalan setelah diperbaiki akhirnya bis kembali beroprasi, namun, tak lama kemudian bis kembali mengalami kerusakan, , ternyata memang harus diganti, sungguh perjalanan yang sangat panjang, dan akhirnya kegundahan datang pada kami, apa yang harus kami lakukan, tetap pada bis ini atau pindah ke bis lain, namun pasti akan memakan biaya yang lebih dari perkiraan, tapi kalau kaimi tetap disini, kapan kami sampai ke papandayan???
Padahal sebelumnya estimasi sampai garut hanya 4 jam, tapi karena banyaknya halangan yang datang pada perjalanan kami, akhirnya kami estimasi tersebut meleset, dan kami tiba di Tanjung garut pada pukul 09.00, itu masih jauh loh, sekitar satu jam setengah lagi waktunya ke Cisurupan.
Terik sekali siang itu diGarut, akhirnya kami tiba di Cisurupan walaupun sebelumnya ada kejadian yang tidak mengenakkan, kami diberhentikan tepat didepan Terminal Guntur oleh pereman terminal, pada saat kami hendak menjemput Suci dan Hairul, mereka bilang ini daerah khusus angkot mereka, yang lain tidak boleh masuk daerah sini, akhirnya setelah kami coba untuk bicara kepada mereka, tetap saja kami disuruh pindah ke angkutan yang seharusnya beroprasi disana, yang tadinya kami sudah nyamanm packing tas diatas angkot yang kami sewa saat di tanjung, namun kami harus turun dan pindah angkutan umum, yang didalamnya sudah berpenumpang 2 orang, jelas saja tidak bisa menampung kami sejumlah 15 orang dan akhirnya jambrong ( satrio ) duduk diatas bersama Carriel kami. gokil abis deh..
Akhirnya kami sampai dicisurupan, kami langsung mencari angkutan yaitu losbak, dan lagi-lagi kami bertemu dengan pereman yang sangat menjengkelkan, kami dipisah menjadi 2 rombongan, losbak pertama 10 orang dan yang losbak yang kedua 5 orang namun dicampur menjadi 13 orang per losbak, alias kami kena tipu ..
Awal yang menantang, naik losbak dengan track jalan yang gak karuan arahnya, lubang hancur sekali jalanan disana, hanya bisa dilewati oleh motor trail dan mobil sport sepertinya, diguncang habis kami dilosbak, kekanan kekiri semua bergoyang, pinggang rasanya mau patah kepala gak karuan pusingnya, tapi ini baru awal, gak boleh kalah sebelum berperang yo..
Dan kami tiba di Pos papandayan, istirahat di warung sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke atas, yaitu pondok salada tempat kami akan bermalam dan mendirikan tenda,
Berangkat, awal masih sangat mudah untuk lewati, kami berjalan beriringan dengan pelan tapi pasti menikmati alam Mu yang indah ini ...
Tak lama aroma blerang menemani perjalanan, ditemani pemandangan pohon-pohon dan batu-batuan yang indah, dan sedikit tanjakan juga banyak bonus alias tanah datar itu yang saya suka hihihi. maklum berat badan sudah tak mendukung lagi nih..
kami tiba di Hutan mati pada sore hari, jadi gak terlalu gersang dan bisa foto-foto walau sebentar karena tujuan kami bukan disana tapi di pondok selada dan puncak,
sempat kebingungan pilih jalur, banyak jalur disini, tapi untungnya masih ada mata yang jeli dan masih ada cahaya, jadi kami bisa menemukan jalur yang tepat dan tiba di pondok selada dengan selamat, sementara jambrong, ivan, ibenk nyari kayu buat penngganti pasak dan buat api unggun , kami mendirikan tenda dan menyiapkan untuk makan malam, setelah semuanya siap kami masuk ketenda dan persiapan makan malam bersama.
Pagi dini hari sekali, sekitar pukul 03.10 Wib, kami dibangunkan oleh Mas Garut, mereka sengaja bangun pagi karena ingin ke puncak dan melihat Sunrise, saat itu hanya, Ivan, Mas garut, jambrong, ibenk, minyak dan fakhri yang pergi ke puncak, karena ka mahrus yang masih gak enak badan, dan isol yang masih tidur juga yang lain, sayapun bingung ikut atau tidak, akhirnya saya putuskan untuk tidak kepuncak dan beristirahat di tenda sambil memepersiapkan makan pagi, setelah matahari mulai naik, akhirnya rombongan yang pergi ke puncak tiba dan kami sedang mempersiapkan untuk makan pagi.
Pertama kalinya semenjak Naik, baru kali ini masak, ya walaupun cuma siapin bahan-bahan seperti iris sayuran dan yang lain tapi saya bangga karena ini pertama kalinya saya mencoba, ya biasanya dikasih tugas buat daerah lapangan dan ini di daerah dapur, biasanya megang tenda sama flysheet sekarang pegang piso daput dan kompor juga bahan-bahan.
Setelah makan pagi, kami istirahat sambil kumpul ya, sekedar duduk ditenda dan bercanda saling ejek ceritanya, setelah itu ka faisal mengajak ka mahrus dan yang lain ke puncak, yang tadi pagi gak ke puncak, saya juga sempat diajak namun saya urungkan niat itu, karena saya harus berfiir dua kali, nanti ada yang salah faham, ya serba gak enak juga, dan akhirnya saya hanya terdiam di tenda dan mencari
kesibukan dengan merapihkan tenda dapur yang sangat berantakan juga mencuci sebagian oiring yang sudah dipakai tadi pagi, setelah semua beres, saya dan ivan masuk ke tenda untuk istirahat, sambil menunggu rombongan Ka faisal turun dari puncak, pinggang sudah mulai berasa ngilunya karena udara semalam yang sangat menusuk walaupun sudah pakai sleeping bag masih saja kedinginan dan menggigil.
Mulai khawtir karena mereka belum tiba dari puncak sementara cuaca semakin mendung, kabut mulai turun dan gerimis kecil membasahi area pondok selada, daannnnn akhirnya mereka tiba, hilang semua kekhawatiran dan kecemasan yang ada diotak saya, setelah mereka tiba mereka semua beristrahat masuk ke tenda masing-masing, karena hujan yang turun kamin lebat, akhirnya ka mahrus memutuskan untuk keluar mengecek tenda kami, dan benar saja, bocor dan rembes, biar cuma sedikit tapi lama-lama menjadi bukit.
Ivan, ka mahrus ka faisol sibuk membuat parit, agar airnya mengalir dan tidak mengendap dibawah tenda, sementara Jambrong membawa tasnya ke tenda ka mahrus untuk diselamatkan dari basahan, jelas saja tenda mereka kurang lengkap , tenda pramuka yang tidak ada alasnya dan tidak ada pintunya hanya bermodalkan Lakban,
setelah hujan berhenti, akhirnya tiba diwaktu makan malam, kali ini dapur dikuasai oleh Ivan and the Gank,mereka yang memasak dimalam kedua ini, rasanya ya lumayan, banyak sekali menu pada pendakian kali ini.
setelah makan, kami beristirahat sambil menyalakan api unggun, lumayan buat menghangatkan badan, walau cuma sebentar karena hujan kembali datang, dan akhirnya api unggun mati dengan sendirinya, malam ini saya hanya tidur ber3 dengan ipeh dan eka karena melin pindah tenda di sebelah, sepertinya dia kedinginan, hihihi..
malam terakhir berada disini, tempat yang asri dan nyaman, walau banyak ulat bulu, yang bikin gak tenang, hehehe..
pagi harinya kami bangun dan bersiap untu packing dengan sebelumnya diawali dengan sarapan, semua logistik diusahakan dimasak agar tidak terbuang sia-sia dan isi tas ringan saat turun nanti, setelah semua siap, breefing dan opsih sebentar, waktunya berdoa dan melangkah meninggalkan pondok salada papandayan.
jalur pulang tidak sama dengan jalur naik, kalau sebelumnya kami melewati hutan mati, kali ini kami melewati sungai, jalurnya lumayan licin tapi sangat singkat, walaupun ada sediti tanjakan namun cukup menguras tenaga, saya pikir sudah tidak ada lagi namanya tanjakan , tapi ternyata masih ada, masih belum berakhir, lama berjalan akhirnya kami tiba di bawah, warung beristirahat dan makan sejenak sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke jakarta